Dukung SayaDukung Pakde Noto di Trakteer

[Latest News][6]

abu nawas
abunawas
berbayar
Budaya
cerbung
cerkak
cerpen
digenjot
gay
hombreng
horor
hot
humor
informasi
LGBT
mesum
misteri
Novel
panas
puasa
sejarah
Terlarang
thriller

Labels

BOJO NDLOGOG Episode #2

 

Baru saja aku merasa lega ... astagfirullah!

Aku melihat ada sarung kawung di atas tempat tidurku, itu bukan sarungku, tetapi sarung Bapak!

Jantungku mulai berdegup tak karuan. Aku mengenali sarung itu tanpa harus mendekat.

Sarung Bapak terpelintir, tidak beraturan, seperti dilepas dengan terburu-buru.

Kakiku bergetar, aku membayangkannya lebih dalam, membayangkan adegan di atas tempat tidur antara istriku dan Bapak.

Astagfirullah!

“Tidak! Aku tidak mau menyimpulkan apa yang ada di otakku. Tidak!” batinku.

Jujur aku masih ragu dengan pikiranku sendiri.

Buru-buru aku meninggalkan kamar.

 

 

****



BOJO NDOLOGOG Episode 2

 

Petang baru saja bergeser.

Lampu minyak yang tergantung di atas meja berpendar.

Kami biasa makan malam bersama, termasuk Bapak.

Entah kenapa selera makanku hilang, meski di depanku kulihat Bapak makan dengan tenang, seperti biasa, tidak tergesa-gesa, bahkan tidak gugup sama sekali.

“La kok gak ndang madang to, Le?” (Kok tidak segera makan, Le?) kata Bapak seraya memandangku.

Aku diam. Kepalaku rasanya berisi bara saat istriku menambahkan lauk ikan rebus ke piring Bapak.

“Mas, kok tidak dimakan to? Nanti keburu dingin lo?” ucap istriku.

Entah mengapa aku merasa menjadi tamu di rumahku sendiri. Istriku dengan telaten mengambilkan lauk buat Bapak. Di mataku, aku melihatnya kalau Bapak seperti suaminya.

“Mas?”
Kenapa sekarang aku cemburu kepada mereka?

Masalah bau rokok, sarung di kamar ... sebenarnya aku sudah berdamai dengan diri sendiri, mungkin benar kata istriku kalau semua hanya kebetulan, tetapi kali ini ... aku melihat kalau mereka punya kedekatan.

“Mas, kok melamun to?”

Aku menatap mata istriku.

“Mau kuambilkan tempe gembusnya sekalian?” tawar istriku.

Aku menggeleng. “Aku tidak lapar.”

“Tidak lapar? Mas loh kerja seharian. Masak tidak lapar?”

Kulihat istriku bangkit lalu menuju ke tempatku.

“Kenapa to, Mas? Biasanya loh Mas makan dengan lahap?”

Tiba-tiba emosiku meninggi. “Aku bilang kalau aku tidak lapar, Dik!”

“Le,” katanya Bapak tiba-tiba. “Gak apik mbentak-mbentak wong wedok ngono iku!” (Tidak baik membentak-bentak perempuan seperti itu!).

Aku bangkit lalu menggebrak meja.

Brak!

“Tari itu istriku, Pak!  Menantunya Njenengan!”

“Iki masale opo to, Le? Kok malah muring to,” (Ini masalahnya apa, Le? Kok malah marah-marah,) kata Bapak tetap tenang.

“Onok opo to, Nduk?” (Ada apa toh, Nduk?) tanya Bapak kepada istriku.

Kulihat istriku menggeleng lalu tertunduk.

“Masalae ki lo opo, he? Nek jek warek, yo gak usah muring. Gak ilok, Le!” (Masalahnya apa, he? Kalau masih kenyang, ya tidak usah marah-marah. Tidak baik, Le!).

“Ini masalah Tari dengan Njenengan, Pak. Bapak sudah melakukan apa selama saya kerja, ha?” tanyaku langsung saja tanpa tedeng aling-aling. Aku mau masalah ini gamblang, tidak ada lagi yang ditutup-tutupi. Makin tersiksa aku dengan rasa curiga, terlebih tadi aku melihat kalau istriku lebih melayani Bapak dibanding aku sebagai suaminya.

“Masalah sarung?” tanyanya Bapak.

Aku diam. Jujur aku malu mendengarnya, terlebih membayangkan kalau Bapak dengan Tari sudah melakukan ....

Ah! Otakku selalu mencari kebenaran yang mereka sembunyikan selama aku bekerja.

“Sarunge  bapak keri neng kamarmu. Wes bapak jikok.” (Sarungnya bapak ketinggalan di kamarmu. Sudah bapak ambil).

“Tari wes cerito kabeh. Awakmu nuduh bapak ndemeni Tari to?” (Tari sudah menceritakan semua. Kamu menuduh bapak berselingkuh dengan Tari, ‘kan?).

Entah kenapa aku seperti anak kecil, mulutku tak kuasa untuk berbicara apa yang kurasakan.

Aku hanya bisa  menatap Bapak dengan gejolak amarah.

“Kenapa sarung Bapak ada di kamar kami?” tanyaku akhirnya.

“Bapak ki gur ndandani engsel jendelo kamarmu, Le. Nek keterak angin, jendelo kamarmu muni.” (Bapak ini hanya membetulkan engsel jendela kamarmu, Le. Kalau diterpa angin, jendela kamarmu berbunyi).

Aku menahan napas. Engsel jendela?

Seketika aku membayangkan letaknya. Jendela kamarku berada di samping lemari, tidak dekat dengan tempat tidur. Lalu kenapa sarung Bapak bisa ada di atas tempat tidur dengan posisi seperti dibuka buru-buru.

Sebenarnya aku ingin bertanya kepada istriku sebab alasan Bapak berbeda dengan apa yang diucapkan oleh istriku, katanya Bapak kedinginan? Namun, Bapak bilang membetulkan engsel jendela. Mana yang benar, Buwajingan!

Kembali aku menatap mata Bapak. Lelaki yang membesarkanku itu masih duduk tenang seolah ia tahu aku tidak akan berani melawan ucapannya.

Bergegas aku meninggalkan mereka berdua, menuju kamar.

Entah kenapa aku merasa gerah membayangkan kalau mereka telah memadu kasih di atas tempat tidurku. Selera makanku benar-benar sudah hilang!

 

****

Malam kian merangkak jauh.

Aku masih belum bisa memejamkan mata, hanya pura-pura tidur saat istriku mencoba membangunkanku untuk segera makan.

“Mas. Makan dulu to?” Sambil mengguncang-guncang tubuhku.

Jujur perutku lapar dan tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, bayangan Bapak melepas sarungnya lalu ....

Diancok! Bayangan itu muncul lagi! Sungguh aku tidak bisa tidur. Ingin sekali aku mengucap istigfar, tetapi entah kenapa aku melampiaskannya dengan misuh.

 

****

Udara malam tak lagi kurasakan dingin, tetapi makin gerah oleh pikiranku sendiri.

Aku bangkit, duduk di tepi tempat tidur.

Kulihat istriku sudah terlelap tanpa dosa, tidak memikirkan perasaanku yang dipenuhi curiga.

Aku beranjak. Kuputuskan untuk memakai kaus kutang saja. Terlalu gerah!

Aku membuka lemari lalu mencari kaus kutang di antara tumpukan baju.

Aku terus mencarinya. Kaus kutangku pasti ada di antara tumpukan baju kami. Namun, aku hanya menemukan daster istriku, jarit, selendang, dan ....

Lalu tanganku berhenti. Aku merasakan ada kain kecil yang ... sepertinya disembunyikan di antara tumpukan baju kami.

Aku menariknya keluar perlahan dan ....

Dadaku seperti dipukul. Di tanganku ada sempak berwarna cokelat dengan merek RicSony.

Ini jelas bukan celana dalamku. Ini celana dalam Bapak!

“Kenapa sempak Bapak ada di sini?” gulat batinku.

Aku menoleh ke arah istriku. Urung aku membangunkannya.

Akan tetapi, kenapa sempak Bapak terselip rapi di antara tumpukan baju kami, ha?

Otakku langsung menyimpulkan kalau ....

“Apa iya Tari sengaja menyimpannya?”

Ini tidak bisa dibiarkan! Aku mau dengar penjelasan dari mulut istriku kenapa sempak Bapak terselip di antara tumpukan baju!

Bergegas aku membangunkan istriku. “Dik, bangun!”

“Dik!” ulangku sambil mengguncang-guncang tubuhnya.

“Dik, bangun!”

Tubuh istriku menggeliat, perlahan ia membuka mata.

“Ada apa to, Mas?” tanyanya langsung terbangun dari tidur.

Kulihat dia mengamatiku dari atas sampai bawah.

“Anunya Mas sudah ngacung, ya? Aku sudah siap kalau Mas mau,” ucapnya.

Kulihat istriku mulai melepas bajunya.

“Aku ini tidak minta kamu layani!” bentakku.

“Ha? Bukankah biasanya Mas membangunku malam-malam untuk itu. Apa aku salah?”

Aku tak mau lagi basa-basi. “Ini kenapa ada di dalam lemari, ha!” bentakku sambil menunjukkan sempak Bapak.

Istriku diam. Malah menatapku dengan wajah takut.

“Sempak ini … kenapa ada di dalam lemari kita, ha? Jawab, Dik. Jawab!”

“Aku kira Mas sedang pingin,” celetuknya lalu tertunduk.

Aku yang kesal lantas mencekik lehernya!

“Eghkk. Mas ... egkhhh.”

“Aku sedang tidak mau bercanda. Jawab! Kenapa sempak Bapak ada di antara tumpukan baju kita!”

“Eghkk. Mas ... egkhhh.”

Wajah istriku berubah merah, napasnya tersengal-sengal. Segera aku melepas cekikan di lehernya.

“Aku sudah tidak tahan lagi dengan semua rahasia yang kalian sembunyikan! Jawab, Dik!”

“Itu … sempak itu ....” Istriku masih kesulitan bernapas.

“Iya! Jawab kenapa sempak Bapak ada di dalam lemari kita!”

“Aku ... aku salah ambil jemuran, Mas,” jawabnya kemudian.

“Apa! Salah ambil jemuran?”

Malah dibalas tanya oleh istriku, “Apa aku salah?”

Ingin sekali aku menamparnya. Istriku sungguh tak tahu bagaimana darahku sudah mendidih membayangkan kalau ia dan Bapak telah ....

“Salah ambil katamu, ha?” tanyaku.

Kulihat istriku mengangguk.

“Salah ambil jemuran sampai masuk lemari?” cecarku lagi.

“Aku memang salah mengambil, Mas. Aku pikir itu ....

“Sampai terselip di bawah pakaian kita?” potongku tak peduli apa alasannya.

“Apa aku salah?” tanyanya lalu tertunduk.

Langsung aku angkat dagunya. Wajah istriku pucat, pucat karena ketakutan melihat aku marah, atau pucat karena ketahuan telah sengaja menyimpan sempak Bapak.? Aku sulit menduganya.

“Kamu mau membohongiku lagi, ha? Kemarin Bapak tiduran di kamar kita lalu besoknya sarungnya tertinggal di kamar, sekarang sempaknya ada di lemari. Kamu pikir ... kamu mengira kalau aku akan menduga semua ini kebetulan, ha!”

Kucampakkan wajahnya. Istriku menangis.

“Kalau kamu sudah tidak mencintaiku dan lebih mencintai bapakku, aku siap untuk menceraikanmu!”

“Mas tega menuduhku!” balasnya. Kulihat air matanya jatuh berlinang.

Entah kenapa, tangisannya menghantamku jiwaku.

Aku diam, aku merasa bersalah karena telah berucap demikian.

“Kalau begitu ... akan kupanggil Bapak untuk menjelaskan semua ini,” kataku pelan.

“Jangan, Mas. Jangan!” cegah istriku.

“Jadi, aku harus percaya dengan omonganmu kalau kamu salah ambil jemuran, ha?”

“Aku yang salah, Mas. Aku yang salah! Aku tak sengaja mengambil sempak Bapak lalu meletakkannya di antara baju-baju kita.”

Tangis istriku selalu berhasil meredam amarahku. “Yakin?” tanyaku.

Kubanting sempak itu ke lantai. Sungguh aku kecewa, kecewa dengan diriku sendiri. Pikiranku selalu menggiring untuk terus curiga, padahal kedua mataku belum pernah memergoki kalau istriku bercumbu dengan Bapak.

“Ah. Kenapa aku ini,” ucapku lirih lalu  mengusap muka.

“Dik.” Kupegang tangan istriku. “Aku ini sangat mencintaimu. Aku tidak mau ada prahara di rumah tangga kita. Kamu paham maksudku?”

Istriku mengangguk sambil mengusap air matanya. “Apa aku salah?”

“Tidak. Aku yang salah ... salah karena sering menuduhmu, salah karena pikiranku selalu berkata kalau kamu dan Bapak ....” Aku tak sanggup melanjutkannya, pikiranku terlalu kotor.

 

****

Pagi harinya.

“Ngopo meneh? Kamu kenapa lagi, ha? Kenapa hari ini kamu loyo sekali, Margono?” tanya Pakde Sukiran saat melihatku hanya duduk di galangan sawah.

Aku mendongak lalu menatapnya.

“Cerita saja kalau ada masalah. Siapa tahu pakde ini bisa membantumu. Cerito ae. Ra popo.”

“Tidak, Pakde,” balasku.

“Pakde ini sudah beristri empat kali, Margono. Yang membuat lelaki murung itu bukan uang, tetapi istri. Benar to?”

Bodohnya aku mengangguk, mengiyakan ucapannya.

“Ginio, No. Kenapa?” tanyanya lalu duduk di sampingku, seolah-olah siap mendengar semua keluh-kesahku.

“Masalah yang tempo hari?” kejarnya.

Aku lantas menceritakan semua kepada Pakde Sukiran. Sungguh aku butuh seseorang yang mau mendengarkan ... mendengarkan kebisingan kepalaku. “Begitu ceritanya, Pakde.”

“Oalah, Margono, Margono. Lha itu tandanya istrimu telah selingkuh dengan bapakmu sendiri, No.”

“Dulu, Sutikno juga bercerita ... dia bilang kalau kamu curiga dengan istrimu to?”

“Tidak, Pakde. Saya belum melihatnya secara langsung!” bantahku.

“Margono, dengar!” Pakde Sukiran menepuk punggungku. “Apa kedua matamu harus melihatnya dulu baru kamu percaya, ha? Sebagai suami, kamu harus peka kalau ada yang aneh terhadap istrimu, Margono.”

“Tetapi, Pakde ....”

“Pertama, bau rokok di kamar kalian. Kedua, sarung bapakmu ada di kamarmu, lalu tadi kamu cerita kalau ada sempak bapakmu di antara tumpukan baju kalian. Itu sudah jelas, Margono.”

“Tidak mungkin, Pakde.”

“Percaya sama pakde. Itu adalah pertanda buruk untuk rumah tanggamu, Margono.”

“Sudah jelas kalau duri di dalam rumah tangga kalian itu adalah bapakmu sendiri,” imbuhnya.

“Mana ada seorang bapak mau menghancurkan rumah tangga anaknya sendiri, Pakde.”

“Banyak! Banyak, Margono. Kamu jangan buta karena dia bapakmu. Perselingkuhan antara bapak dan menantu sudah banyak ... banyak terjadi di dunia yang makin gila ini,” balasnya.

“Seorang istri tidak mungkin salah ambil jemuran, apalagi itu barang yang sifatnya pribadi ... sempake bapakmu, No.”

“Istriku bilang kalau ....”

“Itu alasannya saja, Margono. Istrimu itu dengan sengaja menyimpan sempak bapakmu. Di selipan baju to?”

Aku mengangguk lesu. Sungguh jiwaku seperti tidak lagi melekat di raga, lemas aku mendengarnya.

“Bila iya, lalu buat apa?” tanyaku.

“Ya, mana pakde tahu. Pokonya kamu harus desak istrimu agar mau mengaku,” jawabnya.

“Jangan sampai kedua matamu sendiri melihat ... sakit rasanya, Margono. Sakit kalau melihat istri digagahi oleh orang lain. Titik terendah sebagai suami adalah saat melihat istrinya ditiduri oleh lelaki lain, apalagi ditiduri bapakmu sendiri.”

Ada benarnya apa yang dikatakan oleh Pakde Sukiran. Sekarang saja hatiku sakit, apalagi sampai melihat sendiri kalau ....

“Bila benar, apa yang dicari oleh istriku?” tanyaku jujur.

“Istri selingkuh itu hanya ada dua perkara ... masalah belanja rutin atau nafkah batin,” balasnya.

“Bila dengan Bapak?” Entah apa yang aku tanyakan, aku bingung menyusun kata-katanya, tetapi itu yang kurasakan sekarang.

“Berarti, bapakmu yang bisa memuaskan istrimu, Margono.”

Aku menunduk kian dalam.

Mungkinkah benar apa yang dikatakan oleh Pakde Sukiran? Bersambung.

PAKDE NOTO

Baca juga cerita seru lainnya di Wattpad dan Follow akun Pakde Noto @Kuswanoto3.

No comments:

Post a Comment

Start typing and press Enter to search